CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 82?
![]()
RedBabel-PANGKPINANG — Anggota DPRD Babel Komisi II, Rina Tarol melontarkan kritik pedas kepada manajemen Bank Sumsel Babel saat dilaksanakan Rapat Dengar Pendapat (RDP), Senin, (7/7/2025).
Dalam kesempatan RDP tersebut, Rina Tarol menyayangkan sikap Bank Sumsel Babel yang terkesan Provinsi Kep. Babel, seolah-olah menjadi anak tiri semata.
Yang menjadi sorotan adalah angka Rp860 miliar biaya operasional yang tak jelas rinciannya, dan Rp62 miliar untuk biaya promosi, tak hanya itu, Rina juga mengkritisi minimnya transparansi dalam proses pengadaan di Bank Sumsel Babel.
“Kami nggak pernah lihat Bank Sumsel itu mengadakan lelang yang terbuka,” ungkapnya.
Padahal, menurut aturan, semua pengadaan seharusnya diumumkan secara terbuka. Rina berharap agar penjelasan detail mengenai biaya operasional dan promosi yang fantastis ini segera diberikan. Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah provinsi dan kabupaten untuk lebih peduli terhadap kondisi Bank Sumsel Babel, agar bank daerah ini benar-benar menjadi milik masyarakat, bukan segelintir elit.
Rina tak sungkan langsung menuding adanya praktik modus tersembunyi yang berpotensi mengurangi deviden yang seharusnya menjadi hak daerah. Ia juga menyoroti keanehan bunga bank yang berada di bawah BI Rate 5,5%, serta pemberian fasilitas kepada ASN yang jumlahnya tidak seberapa.
“jelas ini caranya melanggar aturan. Ingat, praktik semacam itu adalah pelanggaran hukum,” ucapnya
Lebih lanjut, Rina mempertanyakan mengapa dana masyarakat Babel yang tersimpan di Bank Sumsel Babel tidak sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat Babel itu sendiri. Politikus perempuan ini juga membeberkan temuan mencengangkan lainnya. Ada 4 kantor cabang yang mengendap di pendidikan, serta 10 kantor cabang dengan 46 debitur yang bermasalah, yang lebih membingungkan, Rina mendapatkan informasi bahwa kredit-kredit bermasalah ini justru diberikan kepada koperasi di Lampung dan Jambi.(Ab/RB)