Mahasiswa Pertiba Soroti Implementasi Akad, Bank Syariah Babel Jadi Objek Diskusi

Loading

RedBabel–PANGKALPINANG — Kunjungan mahasiswa Universitas Pertiba ke Bank Syariah Bangka Belitung menjadi ajang pembelajaran sekaligus ruang diskusi kritis terkait praktik perbankan syariah. Dalam kegiatan tersebut, materi disampaikan langsung oleh pihak internal bank yang memaparkan empat aspek utama: aset, akad, produk, dan peran di masyarakat.

Dalam pemaparannya, pihak bank menjelaskan bahwa dari sisi aset, pengelolaan dana masyarakat dilakukan sesuai prinsip syariah. Namun, mahasiswa menilai bahwa transparansi dalam pengelolaan aset masih perlu diperkuat agar tidak menimbulkan keraguan di kalangan publik.

Pada aspek akad, dijelaskan berbagai skema seperti murabahah, mudharabah, dan musyarakah sebagai dasar transaksi. Meski secara konsep sudah sesuai, mahasiswa menyoroti bahwa implementasi di lapangan kerap menjadi titik perhatian yang perlu terus ditingkatkan.

Perbandingan juga muncul ketika mahasiswa menyinggung Bank Syariah Indonesia yang merupakan hasil merger dari BNI Syariah, BRI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri. Dengan skala besar, bank tersebut dinilai unggul dalam inovasi produk dan layanan, berbeda dengan bank daerah yang masih terbatas.

Selain itu, jika dibandingkan dengan Bank Muamalat Indonesia maupun Bank Sumsel Babel Syariah, mahasiswa melihat adanya perbedaan pendekatan yang cukup signifikan, baik dari sisi produk maupun pelayanan.

Rama selaku ketua kelompok studi lapangan mahasiswa Pertiba menuturkan bahwa kegiatan ini penting sebagai sarana melihat langsung praktik di lapangan, namun tidak boleh berhenti pada pemahaman teoritis semata. “Kami ingin memastikan bahwa apa yang dipelajari di kelas benar-benar sesuai dengan praktik di lapangan. Karena itu, diskusi seperti ini penting untuk membuka ruang evaluasi, bukan hanya menerima penjelasan,” ujarnya.

Sementara itu, Syakila Risardita, mahasiswa Pertiba, menyampaikan pandangannya bahwa materi yang disampaikan sudah memberikan pemahaman dasar yang baik, namun tetap perlu pendalaman lebih lanjut. “Penjelasan tentang aset, akad, produk, dan peran di masyarakat sudah cukup jelas. Ke depan, mungkin bisa lebih diperkuat dengan contoh praktik langsung agar kami lebih memahami penerapannya,” ujarnya.

“ Ia juga menambahkan bahwa pemahaman yang komprehensif akan membantu mahasiswa melihat perbankan syariah secara lebih utuh, baik dari sisi konsep maupun implementasi.“

Pada aspek produk dan peran di masyarakat, mahasiswa menilai bank syariah memiliki posisi strategis dalam mendorong ekonomi berbasis nilai Islam, terutama dalam mendukung UMKM. Namun, peran tersebut dinilai perlu terus ditingkatkan agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat luas.

Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa mahasiswa tidak lagi sekadar menerima materi, tetapi mulai aktif mengevaluasi dan memahami praktik perbankan syariah secara lebih mendalam. Hal ini menjadi sinyal positif bagi perkembangan literasi ekonomi syariah di kalangan generasi muda.

Kegiatan ini diharapkan menjadi refleksi bagi perbankan syariah, khususnya Bank Syariah Bangka Belitung, untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan memastikan prinsip syariah diterapkan secara optimal di tengah masyarakat. (Azl/RB)

About The Author

Pos terkait