![]()
Oleh : Yasmin Najla Audyra
Di kedai-kedai kopi Pangkalpinang hingga Belitung, pembicaraan tentang masa depan anak muda sering kali berujung pada kalimat yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan persoalan besar: “Kalau mau karier berkembang, jangan pulang dulu.”
Kalimat tersebut bukan lahir karena anak muda membenci daerah asalnya. Justru sebaliknya, ia menggambarkan sebuah kenyataan yang perlu diperhatikan: Bangka Belitung belum sepenuhnya menyediakan ruang yang cukup luas bagi generasi mudanya untuk tumbuh, bekerja, dan mengembangkan kompetensi.
Fenomena ketika tenaga terdidik meninggalkan daerah asal untuk mencari kesempatan yang lebih baik dikenal sebagai brain drain. Dalam konteks Bangka Belitung, persoalannya bukan sekadar tentang siapa yang pergi dan siapa yang memilih tinggal. Persoalan yang lebih penting adalah mengapa mereka merasa harus pergi untuk mendapatkan masa depan yang diinginkan?
Selama ini, anak muda yang memilih menetap di luar daerah tidak jarang dianggap kurang memiliki kepedulian terhadap tanah kelahiran. Ada pula anggapan bahwa mereka terlalu mengejar materi atau tidak mau berkontribusi bagi daerah sendiri. Cara pandang seperti ini perlu ditinjau kembali.
Keputusan seorang sarjana untuk bekerja di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Batam, atau kota lainnya sering kali merupakan keputusan yang rasional. Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan, mereka tentu mempertimbangkan apakah daerah asal mampu menyediakan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi, penghasilan yang layak, lingkungan kerja yang sehat, serta peluang pengembangan karier.
Jika jawabannya belum tersedia, maka merantau menjadi pilihan yang masuk akal.
Ketika Kompetensi Tidak Menemukan Ruang
Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah struktur ekonomi Bangka Belitung yang selama bertahun-tahun banyak bertumpu pada sektor primer, terutama pertambangan, perkebunan, dan pemerintahan.
Ketergantungan tersebut menciptakan tantangan ketika daerah mulai diarahkan menuju diversifikasi ekonomi yang lebih berkelanjutan. Di satu sisi, Bangka Belitung memiliki generasi muda dengan latar belakang pendidikan yang semakin beragam. Di sisi lain, ekosistem pekerjaan yang tersedia belum selalu berkembang dengan kecepatan yang sama.
Lulusan teknologi informasi, rekayasa perangkat lunak, analisis data, bioteknologi, industri kreatif, pemasaran digital, hingga hukum bisnis membutuhkan ruang untuk menerapkan kompetensinya. Ketika ruang tersebut terbatas, pilihan mereka menjadi semakin sedikit.
Sebagian akhirnya mencoba mengikuti seleksi aparatur sipil negara. Sebagian lainnya bekerja di sektor yang tidak sepenuhnya sesuai dengan bidang pendidikan. Tidak sedikit pula yang memilih mencari pekerjaan di luar Bangka Belitung.
Di sinilah persoalan brain drain menjadi lebih dari sekadar persoalan mobilitas tenaga kerja. Ia berkaitan dengan kemampuan daerah dalam mempertahankan dan memanfaatkan modal manusia yang telah dimilikinya.
Bukan Hanya Soal Gaji
Persoalan retensi talenta juga tidak berhenti pada besarnya penghasilan.
Anak muda membutuhkan lingkungan kerja yang memberikan kesempatan untuk berkembang. Transparansi dalam rekrutmen, jenjang karier yang jelas, penghargaan terhadap kompetensi, serta budaya kerja yang profesional menjadi pertimbangan penting ketika seseorang menentukan tempat untuk membangun karier.
Jika seseorang merasa bahwa perkembangan karier lebih ditentukan oleh kedekatan, relasi, atau faktor kekeluargaan daripada kemampuan dan kinerja, maka daerah akan semakin sulit mempertahankan tenaga kerja terbaiknya.
Karena itu, membicarakan anak muda yang tidak kembali ke Bangka Belitung tanpa membicarakan kondisi ekosistem kerja di daerah justru berisiko menyederhanakan persoalan.
Anak muda tidak selalu pergi karena tidak mencintai daerahnya. Bisa jadi mereka pergi karena belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk kembali.
Bangka Belitung Perlu Menciptakan Alasan untuk Pulang
Meredam brain drain tidak cukup dilakukan melalui ajakan agar anak muda “membangun daerah” atau “ingat kampung halaman”. Ajakan moral penting, tetapi tidak akan cukup jika tidak diikuti perubahan nyata.
Pemerintah daerah bersama dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas perlu membangun ekosistem yang membuat anak muda melihat masa depan di daerahnya sendiri.
Pertama, Bangka Belitung perlu memperluas ekosistem ekonomi kreatif dan kewirausahaan. Anak muda dengan kemampuan digital, desain, pemasaran, teknologi, dan bisnis perlu diberikan ruang untuk membangun usaha serta mengembangkan inovasi.
Kedua, proses rekrutmen di sektor usaha daerah perlu semakin transparan dan berbasis kompetensi. Kesempatan kerja harus dapat diakses berdasarkan kemampuan dan kualifikasi, sehingga generasi muda memiliki keyakinan bahwa prestasi dan kompetensi benar-benar dihargai.
Ketiga, perguruan tinggi perlu diperkuat sebagai mitra pembangunan daerah. Penelitian mahasiswa dan dosen seharusnya tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi dapat diarahkan untuk menjawab persoalan nyata Bangka Belitung, mulai dari ekonomi biru, pariwisata, lingkungan, hilirisasi, teknologi, hingga pengembangan UMKM.
Keempat, pemerintah dan pelaku usaha dapat menciptakan lebih banyak ruang kolaborasi bagi anak muda yang sedang berada di luar daerah. Tidak semua kontribusi harus dimulai dengan kepulangan permanen. Kolaborasi jarak jauh, proyek profesional, investasi, penelitian, maupun pengembangan usaha dapat menjadi jembatan antara perantauan dan daerah asal.
Anak Muda Bukan Tidak Mau Pulang
Merantau adalah hak setiap individu. Pergi ke luar daerah untuk memperoleh pendidikan, pengalaman, dan pekerjaan yang lebih baik bukanlah sebuah kesalahan.
Yang perlu dipertanyakan justru adalah ketika terlalu banyak anak muda merasa bahwa satu-satunya cara untuk berkembang adalah dengan meninggalkan daerah asalnya.
Bangka Belitung memiliki sumber daya alam, potensi pariwisata, kekayaan laut, budaya, serta generasi muda yang memiliki beragam kompetensi. Tantangannya bukan sekadar bagaimana mempertahankan mereka agar tetap tinggal, tetapi bagaimana menciptakan ruang yang membuat mereka ingin kembali dan berkontribusi.
Pada akhirnya, anak muda tidak harus dipaksa untuk pulang. Daerah perlu menciptakan alasan agar mereka memilih untuk pulang.
Sebab daerah yang maju bukan hanya daerah yang mampu melahirkan generasi berpendidikan, tetapi juga daerah yang mampu memberikan ruang bagi generasi tersebut untuk bekerja, berkarya, dan membangun masa depan di tanah kelahirannya sendiri.
Tentang Penulis
Yasmine Najla Audyra lahir di Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penulis menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Islam Indonesia pada tahun 2024 pada Program Studi Psikologi, saat ini penulis sedang melanjutkan studi S2 di Universitas Bangka Belitung pada Program Studi Magister Manajemen.








