Ikatan Pelajar Muhammadiyah Bangka Belitung Bersuara: MBG sebagai Wadah Keadilan Sosial bagi Pelajar Indonesia

Loading

Oleh : Ikatan Pelajar Muhamadiyah Bangka Belitung

Bagi kami, Ikatan Pelajar Muhammadiyah Bangka Belitung, program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar perkara logistik perut atau bagi-bagi makanan. Di balik sepiring makanan di meja kelas, terdapat manifestasi paling radikal dari Teologi Al-Ma’un sekaligus pengejawantahan nyata dari Sila Kelima Pancasila.

Teologi Al-Ma’un yang diajarkan oleh KH. Ahmad Dahlan merupakan tamparan keras bagi kesalehan yang abai terhadap realitas sosial. Teologi ini menegaskan bahwa iman akan menjadi cacat apabila membiarkan kelaparan bersemayam di sekitar kita. Di ambang Indonesia Emas, kaum mustadh’afin (mereka yang dilemahkan secara struktural) tidak lagi hanya mewujud dalam kemiskinan materi, melainkan juga dalam bentuk ketimpangan gizi di ruang-ruang kelas.

Sungguh tidak mungkin kita mendesak anak-anak di pelosok daerah untuk menjemput masa depan yang gemilang apabila mereka harus belajar dengan perut kosong dan otak yang kekurangan nutrisi. Di sinilah Teologi Al-Ma’un bekerja secara kontekstual melalui MBG, yang hadir sebagai instrumen keadilan sosial, bukan sekadar penyedia makanan.

Menurut Jofa, Ketua Umum PD IPM Pangkalpinang, sekolah yang seharusnya menjadi ruang kesetaraan sering kali justru memperlihatkan realitas ketimpangan ekonomi, mulai dari perbedaan uang jajan hingga kualitas bekal yang dibawa. Ketika seluruh pelajar menerima makanan dengan standar gizi yang sama, negara sedang berupaya mengikis kesenjangan tersebut. Dari perspektif pelajar, program ini memiliki nilai psikologis yang sangat penting karena menghapus perasaan minder; saat makanan dibagikan secara merata, seluruh peserta didik duduk dalam posisi yang setara.

Menurut Andre, Kabid ASBO PW IPM Bangka Belitung, MBG juga menjadi solusi nyata di tengah data BPS Maret 2025 yang menunjukkan masih adanya 23,85 juta penduduk miskin (8,47%) di Indonesia. Bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan, program ini meringankan pengeluaran rumah tangga sekaligus memastikan anak-anak mereka mendapat asupan gizi terbaik untuk belajar.

Tidak heran jika sentimen publik terhadap program ini sangat positif. Survei Indikator Politik Indonesia pada Januari 2025 mencatat bahwa 87,1% masyarakat setuju terhadap program MBG. Sementara itu, survei Litbang Kompas menunjukkan bahwa 66,8% publik merasa puas terhadap pelaksanaan program tersebut.

Catatan Kritis IPM Bangka Belitung

Meskipun mendukung penuh semangat dasar program ini, kami menyadari bahwa pelaksanaannya masih menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari kualitas makanan, distribusi, pengawasan keamanan pangan, hingga efektivitas anggaran.

Maka dari itu, kami, Ikatan Pelajar Muhammadiyah Bangka Belitung, menekankan bahwa Presiden perlu melakukan evaluasi yang ketat dan berkelanjutan terhadap sistem pengelolaan MBG. Langkah ini sangat diperlukan agar tujuan mulia program tersebut benar-benar dapat tercapai secara optimal dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, keadilan sosial tidak selalu hadir dalam bentuk kebijakan besar yang rumit. Terkadang, keadilan sosial hadir dalam seporsi makanan bergizi yang dapat dinikmati oleh seluruh pelajar tanpa memandang latar belakang ekonomi mereka.

“MBG bukan sekadar makan bergizi gratis. MBG adalah upaya menghadirkan kesetaraan di ruang-ruang kelas Indonesia.”

About The Author

Pos terkait