![]()
Oleh : Ardian Sufandi, S.Pd., M.M
Sebagai pembaca, apakah Anda saat ini berperan sebagai guru, peserta didik, orang tua, atau pengamat dunia pendidikan? Apa pun peran kita, satu pertanyaan penting patut direnungkan bersama, yaitu: apakah kita sedang benar-benar menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045, atau justru sedang kehilangan sesuatu yang lebih mendasar, yaitu adab?
Di tengah gaungan bahwa Indonesia akan mendapat bonus demografi Generasi Emas 2045, namun kenyataannya dunia pendidikan menghadapi sebuah paradoks. Guru berlomba-lomba menciptakan generasi yang unggul, cerdas, kreatif, dan kompetitif lewat keterbatasannya, bahkan mengorbankan uang pribadinya demi menyiapkan generasi. Namun, pada saat yang sama diperlihatkan lunturnya adab sebagai generasi muda. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang untuk menumbuhkan ilmu dan karakter kini juga dihadapkan pada tantangan semakin kompleksnya pembentukan sikap dan perilaku peserta didik.
Mari kita bertanya dengan jujur kepada diri kita. Berapa banyak peserta didik yang saat ini sudah berani melontarkan kata-kata, “Bapak/Ibu Guru, saya sudah lelah belajar, karena kami ingin menonton pentas seni, bermain game online, atau organisasi.” Terkadang organisasi menjadi sebuah alibi peserta didik yang tidak bertanggung jawab, karena nyatanya di dalam ruang organisasi hanya bersantai-santai saja.
Berapa banyak peserta didik yang telah dibimbing untuk meraih prestasi, tetapi harus berhenti karena tidak mendapatkan dukungan dari orang tuanya? Berapa banyak orang tua yang bangga karena anaknya memperoleh peringkat di kelas, tetapi menganggap perilaku yang tidak mencerminkan adab sebagai sesuatu yang biasa? Berapa banyak peserta didik yang diajarkan berwirausaha oleh gurunya, namun justru dilarang untuk berkembang oleh orang tuanya karena orang tuanya gengsi? Dan berapa banyak guru yang menegur cara berpakaian, berpenampilan, maupun perilaku peserta didik sesuai aturan sekolah, tetapi justru dipersalahkan dan dianggap tidak memahami keadaan anak?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah untuk menyalahkan satu pihak, melainkan menjadi bahan refleksi bahwa pendidikan sejatinya merupakan tanggung jawab bersama. Guru tidak dapat bekerja sendiri, sebagaimana orang tua pun tidak dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada sekolah.
Guru pada hakikatnya adalah bengkel peradaban. Ketika peserta didik datang dengan berbagai persoalannya, guru berusaha memperbaiki, mengarahkan, dan membimbingnya menjadi pribadi yang lebih baik. Sebagian peserta didik ibarat sebilah parang yang telah berkarat. Dengan kesabaran, guru mengasahnya setiap hari agar kembali tajam. Karat berupa kemalasan, ketidakdisiplinan, kurangnya tanggung jawab, dan lunturnya adab diupayakan untuk dihilangkan melalui ilmu pengetahuan dan keteladanan.
Namun, ada sebuah ironi yang perlu kita renungkan bersama. Setajam apa pun kami selaku guru mengasah parang tersebut, apabila setiap hari ia disiram air garam, maka karat akan kembali muncul, bahkan lebih cepat daripada sebelumnya. Secara ilmiah, air garam mempercepat proses korosi pada logam. Ia tidak hanya menimbulkan karat, tetapi juga perlahan merusak bagian terdalamnya.
Begitu pula dengan pendidikan. Ketika guru mengajarkan kejujuran di sekolah, tetapi peserta didik melihat ketidakjujuran di rumah, maka yang terjadi adalah korosi karakter. Ketika guru mengajarkan pentingnya menghormati orang lain, tetapi orang tua justru membenarkan setiap kesalahan anak tanpa mau mendengarkan penjelasan dari sekolah, maka adab yang sedang dibangun perlahan mengalami pengikisan.
Tidak sedikit pula kita menyaksikan fenomena ketika peserta didik, dengan kecerdasannya, membela diri dengan memojokkan gurunya. Potongan video direkam, disebarluaskan, lalu diviralkan tanpa memahami keseluruhan peristiwa. Di era media sosial saat ini, terkadang yang viral dianggap paling benar. Padahal, kebenaran tidak selalu berada pada apa yang paling banyak ditonton dan dikomentari.
Guru bukanlah manusia yang sempurna dan tidak pernah salah. Namun, perlu disadari bahwa guru juga manusia yang sedang berjuang mendidik generasi bangsa dengan segala keterbatasannya. Di balik tuntutan yang semakin besar, tidak sedikit guru yang tetap mengajar dengan hati, meluangkan waktu membimbing peserta didiknya untuk berprestasi, bahkan melakukan banyak hal yang tidak pernah tercatat dalam lembar administrasi pendidikan.
Pendidikan tidak boleh hanya dimaknai sebagai pencapaian nilai akademik semata. Generasi Emas Indonesia 2045 bukan hanya tentang kecerdasan intelektual, tetapi juga tentang kecerdasan moral dan keluhuran adab. Tidak ada gunanya melahirkan generasi yang sangat cerdas apabila kehilangan rasa hormat kepada orang tua, guru, dan sesamanya. Sebab, bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga membutuhkan manusia-manusia yang baik.
Sinergi dan kolaborasi antara guru dan orang tua menjadi sesuatu yang mutlak dilakukan. Sekolah bukanlah tempat untuk memperbaiki seluruh persoalan yang dibawa dari rumah, kemudian dikembalikan dalam keadaan yang sama untuk diulang kembali esok harinya. Pendidikan adalah proses yang harus dijalankan secara bersama-sama. Guru mengasahnya di sekolah, sedangkan orang tua merawatnya di rumah.
Parang yang tajam tidak lahir hanya karena baiknya pengasah, tetapi juga karena baiknya cara merawatnya. Begitu pula dengan peserta didik. Mereka akan tumbuh menjadi generasi yang hebat apabila guru dan orang tua berjalan dalam arah yang sama.
Pada akhirnya, sebelum kita berbicara tentang Generasi Emas Indonesia 2045, ada satu pertanyaan sederhana yang perlu kita jawab bersama. Apabila hari ini Anda adalah peserta didik, sudahkah Anda memiliki adab? Apabila Anda adalah orang tua, sudahkah Anda menjadi teladan bagi anak-anak Anda? Dan apabila Anda adalah guru, sudahkah Anda tetap mengajar dengan hati?








