Saluang Warisan Budaya Takbenda Indonesia Dari Sumbar

Oleh : Revy Trisma Wahyuni, Mahasiswa Sastra MinangKabau, Universitas Andalas

 

Saluang merupakan alat musik tiup tradisional Minangkabau yang berkembang di Sumatera Barat dan digunakan dalam berbagai bentuk pertunjukan musik. Alat musik yang umumnya dibuat dari talang atau bambu ini dikenal dalam pertunjukan saluang-dendang, termasuk tradisi bagurau, serta memiliki teknik permainan khas yang membuat bunyinya dapat mengalir panjang. Saluang juga tidak memiliki satu gaya permainan yang sama di seluruh Minangkabau karena sejumlah nagari mengembangkan ciri permainan masing-masing.

Saluang dan Bentuk Alatnya

Saluang termasuk alat musik tiup dari keluarga aerofon. Di Sumatera Barat, bahan yang banyak digunakan untuk membuatnya adalah talang, sejenis bambu yang memiliki ruas panjang. Saluang yang didokumentasikan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat umumnya memiliki panjang sekitar 40 hingga 60 sentimeter dengan diameter sekitar 3 hingga 4 sentimeter. Pada bentuk tersebut terdapat empat lubang nada yang dibuat pada bagian batang bambu.

Pembuatan saluang membutuhkan ketepatan dalam menentukan bagian atas dan bawah batang bambu sebelum lubang dibuat. Posisi lubang dan ukurannya ikut menentukan suara yang dihasilkan. Bentuk sederhana ini membuat saluang terlihat berbeda dari sejumlah suling yang memiliki konstruksi lebih kompleks, meskipun keduanya sama-sama dimainkan dengan cara ditiup.

Saluang juga memiliki beberapa jenis yang berkembang berdasarkan wilayah. Saluang Pauah, misalnya, tumbuh di Kecamatan Pauh, Kota Padang. Jenis ini mempunyai enam lubang nada dan dapat menghasilkan tujuh nada. Dalam praktiknya, Saluang Pauah digunakan untuk mengiringi dendang kaba dan menjadi bagian dari hiburan pada sejumlah kegiatan adat di Pauah dan sekitarnya.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa istilah saluang tidak selalu merujuk pada satu bentuk alat yang persis sama. Saluang Pauah mempunyai karakter tersendiri, sementara saluang yang berkembang di wilayah lain memiliki teknik dan ciri permainan yang berbeda. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga mencatat adanya gaya permainan yang dikenal dengan nama daerah seperti Singgalang, Pariaman, Solok Salayo, Koto Tuo, Suayan, dan Pauah.

Teknik Permainan Saluang

Salah satu kemampuan yang dikenal dalam permainan saluang adalah teknik manyisian angok atau mengatur napas sehingga pemain dapat terus meniup alat musik tanpa menghentikan aliran bunyi. Teknik ini berkaitan dengan kemampuan mengatur napas masuk dan keluar ketika memainkan saluang. Pemain perlu berlatih agar pergantian napas tidak membuat melodi terputus.

Teknik pernapasan tersebut menjadi salah satu ciri yang membuat permainan saluang terdengar panjang dan berkesinambungan. Kemampuan pemain bukan hanya ditentukan oleh kekuatan meniup, tetapi juga pengaturan napas, jari, dan penguasaan melodi. Dalam pertunjukan saluang-dendang, kemampuan pemain saluang kemudian berpadu dengan suara pendendang yang membawakan lagu atau cerita.

Dalam permainan saluang-dendang, terdapat pula teknik musikal yang dikenal dengan istilah lokal. Kajian mengenai bagurau saluang mencatat istilah seperti danguang saluang, rauik saluang atau dendang, pamanih, garinyiak, sayik, piciak, kalorok, dan pakiak. Istilah tersebut berkaitan dengan karakter bunyi, hiasan melodi, geseran nada, hingga penggunaan nada tinggi dalam permainan saluang.

Penguasaan teknik tersebut penting karena saluang tidak dimainkan hanya untuk menghasilkan nada dasar. Dalam pertunjukan bagurau di Minangkabau, permainan saluang berhubungan langsung dengan dendang yang dibawakan penyanyi. Hubungan antara melodi alat musik dan vokal membuat pemain perlu menyesuaikan permainan dengan lagu yang sedang disampaikan.

Saluang dalam Saluang Dendang dan Bagurau

Salah satu ruang penting bagi saluang adalah pertunjukan saluang-dendang. Bentuk kesenian ini mempertemukan pemain saluang dengan pendendang yang menyampaikan lagu atau cerita. Tradisi tersebut dikenal luas dalam kegiatan bagurau, yaitu bentuk hiburan masyarakat yang melibatkan hubungan antara pemain dan penonton selama pertunjukan berlangsung.

Dalam bagurau, saluang tidak berdiri sebagai pertunjukan instrumental saja. Bunyi saluang menjadi bagian dari interaksi dengan dendang dan penonton. Kajian mengenai saluang-dendang di Minangkabau mencatat bahwa keterlibatan pemain dan penonton ikut menentukan jalannya pertunjukan. Karena itu, suasana bagurau dapat berubah mengikuti hubungan antara lagu, permainan saluang, dan respons orang yang menyaksikannya.

Saluang juga dapat digunakan untuk mengiringi kaba atau cerita. Di Kecamatan Pauh, Kota Padang, Saluang Pauah digunakan bersama tukang dendang dalam pertunjukan yang membawakan kaba. Cerita yang disampaikan dapat berkaitan dengan pengalaman hidup masyarakat maupun pengalaman pemain sendiri. Pertunjukan Saluang Pauah dalam upacara perkawinan juga dilakukan sebagai bagian dari hiburan pada malam hari.

Dalam tradisi Saluang Pauah, pertunjukan dapat melibatkan dua orang, yakni tukang saluang pauah dan tukang dendang. Keduanya mempunyai peran berbeda, tetapi saling melengkapi. Tukang saluang memainkan melodi, sedangkan tukang dendang menyampaikan lagu dan cerita. Bentuk seperti ini memperlihatkan hubungan erat antara musik instrumental dan sastra lisan dalam kesenian Minangkabau.

Saluang juga dapat hadir dalam kesenian lain. Di Nagari Kuncir, Kabupaten Solok, misalnya, dikenal saluang bansi yang digunakan sebagai instrumen tiup dalam pertunjukan tari piring Basiang Batanam. Instrumen tersebut memiliki karakter nada tertentu dan dimainkan dengan teknik circular breathing atau tiupan yang dilakukan tanpa terputus. Dalam pertunjukan itu, permainan saluang bansi memiliki pola ritme yang saling mengisi dengan melodi lagu.

Perkembangan Saluang di Sumatera Barat

Saluang telah mengalami perkembangan dalam bentuk pertunjukannya. Pada saluang-dendang, misalnya, masuknya instrumen modern seperti organ atau keyboard pernah memengaruhi bentuk pertunjukan. Ketika organ menjadi bagian penting dalam pengiring, muncul istilah saluang orgen dan pertunjukannya dikenal sebagai bagurau oyak. Perubahan tersebut juga memengaruhi jenis dendang yang lebih banyak diarahkan pada lagu-lagu bernuansa gembira.

Perkembangan saluang juga terlihat dari penggunaannya di luar bentuk pertunjukan tradisional yang umum dikenal. Di Kota Sawahlunto, saluang pernah dipadukan dengan gamelan dalam pertunjukan Wayang Sawahlunto. Pertunjukan tersebut menggunakan saluang sebagai salah satu instrumen tambahan bersama perangkat musik Jawa, menunjukkan bahwa alat musik Minangkabau dapat hadir dalam bentuk kesenian yang lahir dari lingkungan budaya berbeda.

Saluang sendiri telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Provinsi Sumatera Barat. Penetapan tersebut tercantum dalam SK Nomor 372/M/2021 dengan saluang ditempatkan pada domain seni pertunjukan. Pencatatan ini menunjukkan bahwa saluang telah masuk dalam dokumentasi resmi warisan budaya Indonesia.

Di lapangan, keberadaan saluang tetap berkaitan dengan lingkungan budaya tempat alat musik itu dimainkan. Saluang Pauah memiliki fungsi yang berbeda dengan saluang dalam bagurau, sementara saluang bansi di Nagari Kuncir digunakan dalam konteks pertunjukan tari. Perbedaan tersebut penting dicatat karena tradisi musik Minangkabau memiliki banyak variasi berdasarkan daerah dan kebutuhan pertunjukannya.

 

Saluang pada akhirnya tidak hanya dikenal dari bentuk bambunya, tetapi juga dari cara memainkannya dan ruang budaya tempat bunyinya hadir. Dari bagurau saluang-dendang di Minangkabau hingga Saluang Pauah di Kota Padang, alat musik ini terus berkaitan dengan dendang, kaba, dan kegiatan masyarakat. Setiap daerah dapat mempertahankan gaya permainan sendiri, sehingga saluang tetap memiliki banyak bentuk dalam kehidupan seni Minangkabau.

About The Author

Pos terkait