Bekerja Tidak Hanya untuk Mencari Gaji: Hubungan Ikigai dengan Employee Engagement
Oleh: Belinda, S.M.
Mahasiswa Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung
“Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life”
Kutipan semacam itu sering kita dengar jika membicarakan tentang karir. Kita selalu diberi nasihat bahwa bekerja harus sesuai dengan passion supaya kita lebih menikmati pekerjaan, memberi makna untuk diri sendiri, dan tidak merasa terbebani dalam menjalaninya, tetapi apakah memang betul kita harus bekerja sesuai dengan passion? Salah satu konsep yang sering digunakan untuk menggambarkan pencarian tersebut adalah ikigai, istilah Jepang yang secara umum dikaitkan dengan alasan atau tujuan yang membuat seseorang merasa hidupnya bernilai.
Berdasarkan kondisi keterikatan pekerja di Indonesia yang dilaporkan oleh Gallup dalam State of the Global Workplace 2026 bahwa pada tahun 2025 hanya 27% pekerja di Indonesia yang tergolong engaged (terikat), 68% berada dalam kategori not engaged (tidak terikat), dan 5% actively disengaged (sangat tidak terikat). Data tersebut memang tidak dapat secara langsung diartikan bahwa rendahnya employee engagement disebabkan oleh pekerja yang belum menemukan ikigai. Namun, angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan pekerjaannya masih menjadi persoalan penting. Pekerja tidak hanya membutuhkan pekerjaan sebagai sumber penghasilan, tetapi juga membutuhkan pekerjaan yang memberikan pengalaman kerja yang sesuai dengan nilai dirinya, memberi kesempatan berkembang, dan memiliki makna.
Dari Ikigai ke Work Engagement
Penelitian yang dilakukan oleh Koob dan Tomic (2025) pada 166 peserta pendidikan keperawatan di Jerman dengan menggunakan metode cross-sectional menguji apakah ikigai dapat dipandang sebagai salah satu personal resource yang berkaitan dengan work engagement. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara ikigai dan work engagement. Ketika ikigai dimasukkan ke dalam model penelitian, kemampuan model dalam menjelaskan variasi work engagement meningkat sebesar 3,3 persen. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penulis tertarik untuk melihat keterkaitan Ikigai dan Work Engagement.
Dalam teori Manajemen Sumber Daya Manusia, khususnya Job Demands–Resources (JD-R) Model, pengalaman kerja seseorang dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, job demands yang merupakan tuntutan pekerjaan yang dapat menguras energi, seperti beban kerja dan tekanan. Kedua, job resources yang merupakan sumber daya dalam membantu karyawan menghadapi tuntutan tersebut, seperti dukungan sosial, otonomi, umpan balik, dan kesempatan untuk berkembang.
Namun, sumber daya yang dimiliki seseorang tidak selalu berasal dari pekerjaannya. Ada pula personal resources, yaitu sumber daya yang berasal dari dalam diri individu dan dapat membantu seseorang menghadapi tuntutan pekerjaan.
Penelitian tersebut memberikan indikasi bahwa rasa memiliki tujuan dan makna dalam hidup dapat menjadi salah satu sumber daya personal yang berkaitan dengan keterlibatan seseorang dalam pekerjaannya. Namun, hasil penelitian ini tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa ikigai menyebabkan seseorang menjadi lebih engaged, apalagi langsung digeneralisasikan kepada seluruh pekerja di Indonesia.
Engagement Ternyata Bukan Hanya Tentang Apa yang Diberikan Perusahaan
Selama ini, ketika membahas employee engagement, kita sering diarahkan pada faktor-faktor yang berasal dari lingkungan organisasi. Hubungan dengan atasan, dukungan rekan kerja, kompensasi, kesempatan berkembang, dan kondisi pekerjaan. Tetapi, kajian mengenai ikigai memberikan sudut pandang yang berbeda, bisa saja faktor engagement dipengaruhi oleh apa yang dibawa oleh individu ke dalam pekerjaannya.
Bayangkan ada dua orang bekerja pada posisi yang sama, dengan gaji dan fasilitas yang sama. Keduanya juga memiliki beban kerja yang relatif sama. Namun, salah satunya merasa pekerjaannya memberikan kontribusi dan sesuai dengan tujuan hidupnya, sementara yang lain merasa hanya menjalankan rutinitas untuk mendapatkan penghasilan.
Mereka memiliki job resources yang sama, tetapi pengalaman psikologis yang dirasakan keduanya bisa saja berbeda. Karena itu, employee engagement tidak seharusnya hanya dilihat sebagai sesuatu yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan melalui fasilitas dan insentif.
Haruskah Kita Menemukan Ikigai dalam Pekerjaan?
Apakah kita harus menemukan ikigai dalam pekerjaan? Jawabannya adalah tidak. Tidak semua orang bekerja karena menemukan passion dalam pekerjaannya. Ada orang yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan ada pula yang mengejar pengalaman serta pengembangan karier. Ada orang yang dalam memperoleh makna hidupnya justru dari keluarga, komunitas, atau aktivitas di luar pekerjaan. Karena itu, pekerjaan yang bermakna tidak selalu berarti pekerjaan yang sempurna atau pekerjaan yang sepenuhnya sesuai dengan passion.
Pada Akhirnya, Bekerja Bukan Hanya Tentang “Apa”, tetapi Juga “Mengapa”
Ikigai tentu bukan satu-satunya jawaban untuk menjelaskan mengapa seseorang terlibat dalam pekerjaannya. Penelitian mengenai hubungan ikigai dan work engagement juga masih memiliki keterbatasan dan membutuhkan penelitian lebih lanjut pada konteks, jenis pekerjaan, dan populasi yang berbeda.
Namun, konsep ini memberikan satu perspektif yang menarik, keterlibatan seseorang dalam pekerjaan mungkin tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang ia dapatkan dari pekerjaannya, tetapi juga oleh makna yang ia temukan di dalamnya. Gaji mungkin membuat seseorang bertahan dalam pekerjaan, tetapi perasaan bahwa pekerjaannya memilki makna dapat membuat seseorang lebih terlibat di dalamnya.

