![]()
RedBabel–BANGKATENGAH– Sosok guru inspiratif kembali hadir dari dunia pendidikan vokasi di Bangka Belitung. Ardian Sufandi, S.Pd., M.M, guru yang sebelumnya mengajar di SMKN 2 Koba dan kini bertugas di SMKN 1 Pangkalpinang, dikenal sebagai pendidik yang konsisten mendorong perubahan pola pikir generasi muda agar lebih inovatif, kreatif, dan berjiwa wirausaha.
Komitmen tersebut kembali terlihat pada Sabtu, 25 April 2026, saat Ardian melaksanakan pembelajaran kewirausahaan di kawasan Danau Kaolin, meskipun hujan deras mengguyur lokasi. Di saat sebagian besar aktivitas terhenti oleh cuaca, Ardian justru menjadikan kondisi tersebut sebagai bukti bahwa pembelajaran berdampak harus tetap berjalan, kapan pun dan di mana pun.
Dalam kegiatan tersebut, Ardian menerapkan model pembelajaran KERITO, yaitu singkatan dari Kreativitas, Ekonomi, Restorasi, Inovasi, Tourism, dan Organik. Model ini dirancang sebagai respons terhadap berbagai persoalan nyata di masyarakat, seperti meningkatnya angka pengangguran lulusan SMK, kerusakan lingkungan akibat penambangan timah, serta kondisi sektor pariwisata Bangka yang tengah mengalami penurunan.

Melalui pendekatan ini, peserta didik didorong untuk mengintegrasikan kreativitas dan inovasi dengan ekonomi berkelanjutan berbasis potensi lokal. Tujuannya adalah menciptakan kompetensi kontekstual yang mampu menjawab kebutuhan link and match dengan realitas sosial-ekonomi masyarakat.
Tidak hanya berorientasi pada profit, pembelajaran ini juga menekankan aspek restorasi lingkungan. Hal tersebut diwujudkan melalui penggunaan bahan baku lokal, kemasan ramah lingkungan, hingga program pembelian produk yang disertai pemberian bibit tanaman. Program ini bahkan dilengkapi dengan kegiatan penanaman langsung di area bekas tambang sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap pemulihan lingkungan.
Dari sisi pariwisata, pendekatan Tourism dalam KERITO menghadirkan konsep wisata berkelanjutan berbasis wirausaha lokal. Produk-produk yang dihasilkan peserta didik menjadi daya tarik tersendiri karena hanya tersedia di lokasi wisata, sehingga menciptakan pengalaman unik bagi pengunjung.

Kegiatan pembelajaran ini dikemas dalam bentuk pameran yang melibatkan peserta didik, paguyuban orang tua, serta konsumen yang diundang melalui promosi mandiri. Hasilnya, kawasan Danau Kaolin yang biasanya sepi mendadak ramai dikunjungi, sehingga turut meningkatkan pendapatan dari sektor tiket masuk, parkir, dan aktivitas ekonomi lainnya.
Salah satu pengunjung, Duha, mengaku terkesan dengan konsep kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini sangat unik dan jarang ditemui. Kami membeli produk sekaligus mendapatkan bibit tanaman, lalu didampingi untuk menanam langsung di kawasan bekas tambang. Bahkan kami juga didokumentasikan. Biasanya kegiatan seperti ini dilakukan oleh pejabat, bukan masyarakat umum,” ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Syahril, salah satu peserta didik. Ia mengaku produk usahanya berupa lilin aromaterapi dari limbah gaharu dan kulit pelawan mendapat respons positif dari pengunjung.
“Produk saya laku keras. Saya berharap pembelajaran seperti ini terus ada dan bisa diterapkan oleh guru lain. Walaupun Pak Ardian sudah pindah ke SMKN 1 Pangkalpinang, semoga beliau terus menghadirkan inovasi baru,” ungkapnya.
Model pembelajaran yang diusung Ardian Sufandi ini menjadi contoh nyata gerakan edukatif yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga menghadirkan solusi konkret terhadap permasalahan lokal. Pendekatan ini dinilai relevan, aplikatif, dan berkontribusi langsung dalam mendorong pembangunan pariwisata berkelanjutan di Pulau Bangka. (Ardian/RB)






