Implementasi Kunjungan Edukasi dalam Meningkatkan Pemahaman tentang Pengelolaan Mangrove Munjang

Loading

RedBabel–BANGKATENGAH — Kegiatan kunjungan edukasi yang dilaksanakan di kawasan Mangrove Munjang, Desa Kurau Barat, Bangka Tengah merupakan bentuk pembelajaran lapangan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta terhadap pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan. Kegiatan ini melibatkan komunitas lingkungan, masyarakat lokal, serta mahasiswa yang tengah melakukan penelitian di kawasan tersebut.

Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pemahaman komprehensif mengenai proses pembibitan mangrove. Secara umum, bibit mangrove memerlukan waktu sekitar tiga bulan hingga siap tanam. Proses penyemaian dilakukan secara langsung menggunakan buah mangrove dengan media lumpur yang memiliki kualitas baik sebagai faktor utama dalam menunjang pertumbuhan. Dalam praktiknya, satu petak penyemaian mampu menghasilkan hingga 2.000 bibit mangrove, menunjukkan potensi produksi yang signifikan.

Kawasan mangrove ini memiliki luas sekitar 2,13 hektar dan dikelola oleh HKm Gempa 01, yang telah berdiri sejak tahun 2004 dan memperoleh legitimasi pengelolaan melalui Surat Keputusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2017. Kondisi ekosistem di kawasan ini tergolong baik, ditandai dengan keberadaan berbagai satwa yang masih terjaga kelestariannya.

Dari aspek sosial-ekonomi, pengelolaan mangrove di kawasan ini juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Keterlibatan ibu-ibu dalam kegiatan penyemaian dengan upah sekitar Rp75.000–Rp80.000 per hari mencerminkan adanya pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan. Selain itu, masyarakat laki-laki turut berkontribusi melalui penjualan buah mangrove kepada pengelola dengan kisaran harga Rp150–Rp250 per buah, sehingga menciptakan sirkulasi ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Selain fungsi ekologis sebagai pelindung pesisir, mangrove juga memiliki nilai tambah dari sisi pemanfaatan. Buah mangrove diketahui dapat diolah menjadi berbagai produk, seperti obat tradisional untuk diabetes, bahan pengusir nyamuk, hingga produk olahan berupa sirup dan keripik, yang berpotensi meningkatkan nilai ekonomi komoditas mangrove.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Julianta selaku Koordinator Green Leadership Indonesia wilayah Bangka Belitung menyampaikan

bahwa kegiatan kunjungan edukasi memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi ekosistem pesisir. Ia menekankan bahwa pengelolaan mangrove harus dilakukan secara seimbang antara aspek pelestarian lingkungan dan pemanfaatan ekonomi.

Sementara itu, Muhammad Azril selaku Ketua Koordinator Green Hikers Bangka Belitung menyampaikan bahwa potensi buah mangrove masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Menurutnya, “beragam manfaat yang dimiliki mangrove seharusnya dapat menjadi peluang besar dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat apabila dikelola secara inovatif dan berkelanjutan.“

Kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang sedang melaksanakan penelitian di kawasan tersebut. Mereka menyampaikan

bahwa Mangrove Munjang memiliki potensi besar sebagai laboratorium alam untuk penelitian berkelanjutan, khususnya dalam bidang konservasi pesisir, keanekaragaman hayati, serta pengembangan produk berbasis mangrove.”

Secara keseluruhan, kegiatan kunjungan edukasi ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan partisipasi aktif berbagai pihak dalam menjaga serta mengelola ekosistem mangrove secara berkelanjutan, sekaligus mendorong optimalisasi potensi ekonomi yang dimilikinya. (Azl/RB)

About The Author

Pos terkait