UMKM Babel dan Tantangan SDM: Membangun Manusia, Memperkuat Usaha
Oleh: Purnaningsih – Mahasiswa Prodi Magister Manajemen FEB UBB
Pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung pada Triwulan II 2026 memberikan gambaran menarik tentang dinamika perekonomian daerah. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Bangka Belitung tumbuh 4,01 persen secara year-on year dan 5,02 persen secara quarter-to quarter.
Sementara itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi, yaitu 33,29 persen secara year-on year.
Di balik angka pertumbuhan tersebut terdapat aktivitas para pelaku usaha yang setiap hari memproduksi, melayani konsumen, mencari pasar, mengelola keuangan, serta mengambil keputusan untuk mempertahankan keberlangsungan usahanya. Karena itu, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari angka dan aktivitas bisnis, tetapi juga dari kesiapan manusia yang menjadi penggerak utama di dalamnya.
Data Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2026 melalui sidaya.babelprov.go.id mencatat sebanyak 133.487 unit usaha, dengan 123.535 di antaranya merupakan usaha mikro atau sekitar 92,5 persen dari keseluruhan data yang tercatat. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar UMKM masih dikelola oleh pemilik usaha. Pemilik tidak hanya menentukan arah bisnis, tetapi juga terlibat langsung dalam pengelolaan keuangan, pemasaran, produksi, pelayanan pelanggan, hingga pengelolaan tenaga kerja. Sehingga pada usaha mikro, kualitas pengelolaan manusia sangat bergantung pada kemampuan pemilik dalam memimpin, mengembangkan, dan mengelola orang-orang yang terlibat dalam usaha (Wallo & Coetzer, 2026).
Karakteristik tersebut menjadikan persoalan SDM dalam UMKM memiliki tantangan tersendiri. Pada usaha mikro, fungsi rekrutmen, pengembangan, penilaian kinerja, hingga pengelolaan pekerja umumnya masih menyatu dengan peran pemilik usaha. Akibatnya, peningkatan produktivitas, penerapan digitalisasi, dan perluasan pasar sangat bergantung pada kemampuan manusia yang menjalankan usaha. Kekuatan UMKM tidak hanya ditentukan oleh sumber daya yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam mengelola dan mengembangkan sumber daya tersebut (Dinku et al., 2024).
Human capital theory yang dikembangkan Gary S. Becker (1964) menjelaskan bahwa bahwa pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman merupakan aset produktif yang menentukan bagaimana sumber daya usaha dikelola. Data Mei 2026 menunjukkan terdapat 783.005 orang bekerja di Bangka Belitung, dengan 50,31 perse berada di sektor informal, sementara 15,75 persen berpendidikan Diploma ke atas dan 50,68 persen berpendidikan SMP ke bawah.
Bagi UMKM, modal manusia tidak hanya dibentuk melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pengalaman, pelatihan, dan proses belajar dalam menjalankan usaha (Storz et al., 2025). Karena itu, penguatan SDM menjadi faktor penting agar modal, teknologi, dan peluang pasar dapat dikelola secara lebih produktif. Keunggulan UMKM tidak hanya ditentukan oleh modal dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang mengelolanya. Barney (1991) melalui Resource Based View menjelaskan bahwa sumber daya internal yang bernilai dan sulit ditiru dapat menjadi sumber keunggulan usaha. Karena itu, pengetahuan, pengalaman, kreativitas, kemampuan mengambil keputusan, serta kemampuan membangun hubungan dengan pelanggan dan pemasok menjadi aset strategis bagi UMKM.
Dua UMKM dapat memiliki produk, bahan baku, peralatan, dan akses pasar yang relatif sama, tetapi menghasilkan kinerja yang berbeda karena kemampuan pemilik dan pekerjanya dalam membaca peluang, mengelola sumber daya, menjaga kualitas, dan merespons perubahan tidak selalu sama.
Struktur ekonomi Babel pada Triwulan II-2026 didominasi industri pengolahan sebesar 21,58 persen, pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 19,85 persen, serta perdagangan sebesar 15,25 persen, yang secara bersama-sama menyumbang 56,68 persen. Struktur tersebut membuka peluang bagi UMKM untuk tidak berhenti pada penjualan bahan mentah, tetapi berkembang melalui pengolahan produk, pengemasan, branding, sertifikasi, hingga pemasaran digital. Dalam perspektif Dynamic Capabilities yang dikembangkan Teece, Pisano, dan Shuen (1997), peluang tersebut membutuhkan kemampuan UMKM untuk membaca perubahan, menangkap peluang, serta menyesuaikan dan mengembangkan sumber daya yang dimiliki. Kunci dari proses tersebut tetap berada pada manusia, karena pemilik usaha dan pekerja harus terus belajar, meningkatkan keterampilan, serta mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis.
Kemampuan beradaptasi semakin penting ketika UMKM memasuki era digital. Menjadi “go digital” tidak cukup hanya dengan memiliki akun media sosial atau masuk ke marketplace, tetapi harus diikuti kemampuan menggunakan teknologi untuk membaca pasar, mengelola pelanggan, memasarkan produk, mengendalikan biaya, serta mendukung pengambilan keputusan. Karena itu, digitalisasi membutuhkan digital competence, yaitu kemampuan manusia dalam memanfaatkan teknologi secara tepat dan produktif (Chávez Santos et al., 2026). Dengan demikian, digitalisasi UMKM bukan sekadar agenda teknologi, melainkan bagian dari pengembangan Manajemen SDM, karena teknologi hanya akan memberikan nilai ketika pemilik dan pekerja mampu menggunakannya secara strategis.
Penguatan kompetensi tersebut juga peru diikuti dengan perhatian terhadap regenerasi, karena keberlanjutan UMKM tidak hanya ditentukan oleh aset fisik, tetapi juga oleh pengetahuan yang melekat pada pemilik usaha. Pengetahuan mengenai pemasok, kualitas produk, pelanggan, harga, dan cara menghadapi persoalan bisnis sering kali terbentuk dari pengalaman panjang dan belum terdokumentasidengan baik (Lafuente et al., 2024). Di sisi lain, generasi muda dapat membawa kompetensi baru, terutama dalam literasi digital, teknologi, kreativitas, dan pemahaman pasar. Karena itu, regenerasi tidak seharusnya dimaknai sebagai penggantian generasi lama, tetapi sebagai proses mempertemukan pengalaman dengan kompetensi baru. Kolaborasi antar generasi menjadi salah satu pendekatan penting dalam menjaga keberlanjutan dan pengembangan UMKM.
Penguatan kompetensi dan regenerasi tersebut tentu membutuhkan dukungan program pengembangan UMKM yang tepat sasaran. Pada 2025, misalnya, DKUKM Babel merencanakan dukungan berupa digitalisasi dan pemasaran, seminar dan bimbingan teknis, sertaiuran BPJS Ketenagakerjaan untuk 3.750 UMKM. Program seperti ini memiliki peran penting, namun keberhasilannya tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau banyaknya kegiatan yang terlaksana. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan yang terjadi setelah program berjalan. Pelatihan digital seharusnya meningkatkan kemampuan pemasaran, pelatihan keuangan memperbaiki pengelolaan cash flow, dan pendampingan usaha meningkatkan kemampuan menjaga kualitas produk. Dengan demikian, pertanyaan utama bukan hanya berapa banyak pelaku usaha yang telah dilatih, tetapi apa perubahan nyata yang terjadi setelah mereka mendapatkan pelatihan.
Dengan demikian, apabila SDM ditempatkan sebagai aset strategis UMKM, maka pengembangannya perlu diarahkan pada kebutuhan kompetensi dan hasil yang nyata. Pendampingan harus diawali dengan pemetaan kebutuhan, kemudian dilanjutkan melalui proses continuous learning melalui mentoring, coaching, komunitas usaha, perguruan tinggi, dan dunia industri. Digitalisasi juga perlu berjalan bersama dengan penguatan digital competence, sementara pengalaman pelaku usaha senior perlu ditransfer kepada generasi muda agar dapat dipadukan dengan inovasi dan teknologi baru. Melalui pendekatan tersebut, keberhasilan pengembangan SDM tidak hanya dilihat dari jumlah pelatihan yang dilakukan, tetapi dari perubahan nyata pada produktivitas, kualitas, efisiensi, inovasi, perluasan pasar, dan keberlanjutan usaha.
Pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung sebesar 4,01 persen pada Triwulan II 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat UMKM. Namun, pertumbuhan tersebut perlu diikuti dengan peningkatan produktivitas dan kualitas manusia yang menjalankan usaha. Human Capital Theory, Resource-Based View, dan Dynamic Capabilities Theory menunjukkan bahwa pengetahuan, keterampilan,serta kemampuan beradaptasi merupakan faktor penting dalam membangun daya saing usaha. Oleh karena itu, jika membangun UMKM berarti membangun manusia di dalamnya, maka membangun manusia merupakan langkah strategis untuk memperkuat usaha sekaligus fondasi ekonomi Bangka Belitung.








