Oleh: Revy Trisma Wahyuni Mahasiswa Universitas Andalas Sumatera Barat
Rumah Gadang merupakan rumah tradisional Minangkabau yang dikenal melalui bentuk atapnya yang disebut gonjong. Bentuk atap yang melengkung dan meruncing ke atas itu membuat rumah gadang mudah dikenali di berbagai daerah Sumatera Barat. Namun, rumah gadang tidak memiliki satu bentuk yang benar-benar sama. Jumlah gonjong, susunan ruang, bentuk lantai, hingga posisi anjuang dapat berbeda sesuai jenis rumah dan lingkungan adat tempat bangunan tersebut berada.
Gonjong menjadi bagian paling mudah dikenali dari arsitektur rumah gadang. Bentuknya yang menyerupai tanduk kerbau menjadi salah satu ciri visual arsitektur Minangkabau. Istilah rumah bagonjong juga digunakan untuk menyebut rumah gadang karena keberadaan atap tersebut. Di Sumatera Barat, bentuk gonjong kemudian banyak digunakan pula pada bangunan modern sebagai penanda identitas arsitektur Minangkabau.
Bentuk Atap dan Jumlah Gonjong
Atap rumah gadang memiliki bentuk melengkung dengan bagian ujung yang meruncing. Struktur tersebut dikenal sebagai gonjong dan menjadi ciri utama rumah bagonjong. Bentuk atap seperti ini tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu dengan bentuk bangunan yang memanjang serta susunan ruang di bagian dalam rumah.
Jumlah gonjong pada rumah gadang dapat berbeda. Rumah dengan dua lanjar dikenal sebagai lipek pandan dan umumnya memiliki dua gonjong. Rumah dengan tiga lanjar disebut balah bubuang dengan empat gonjong, sedangkan rumah dengan empat lanjar dikenal sebagai gajah maharam yang biasanya memiliki enam gonjong atau lebih. Istilah lanjar sendiri merujuk pada bagian rumah yang memanjang dari depan ke belakang.
Perbedaan jumlah gonjong tersebut membuat tampilan rumah gadang di satu daerah tidak selalu sama dengan bangunan yang ditemukan di daerah lain. Ukuran bangunan dan susunan ruang ikut memengaruhi bentuk atap. Karena itu, melihat satu rumah gadang lalu menganggap bentuk tersebut sebagai pola tunggal seluruh rumah gadang Minangkabau kurang tepat.
Salah satu contoh yang memperlihatkan variasi itu adalah Rumah Gadang Gajah Maharam di Kota Solok. Bangunan yang tercatat sebagai milik Kaum Dt. Bandaharo dari Suku Chaniago tersebut memiliki lima gonjong, dengan empat gonjong berada pada atap utama dan satu gonjong berada di bagian depan sebagai pelindung tangga masuk. Rumah ini dibangun pada 1901 dan selesai pada 1904.
Rumah Gadang Gajah Maharam juga memperlihatkan penggunaan bahan tradisional yang berbeda dengan bangunan modern. Komponen utamanya menggunakan kayu, sementara bagian atapnya menggunakan seng. Di bagian dalam terdapat empat kamar yang berjajar, sedangkan ukiran bermotif flora menghiasi sejumlah bagian rumah. Contoh ini memperlihatkan bahwa bentuk rumah gadang juga mengalami perkembangan bahan dan konstruksi sesuai masa pembangunannya.
Koto Piliang dan Bodi Caniago
Perbedaan arsitektur rumah gadang juga berkaitan dengan dua kelarasan yang dikenal dalam adat Minangkabau, yaitu Koto Piliang dan Bodi Caniago. Dalam perkembangan arsitektur tradisional, pengaruh kedua kelarasan tersebut dapat dilihat pada bentuk lantai dan keberadaan anjuang pada rumah gadang.
Rumah gadang yang berkaitan dengan kelarasan Koto Piliang dikenal memiliki anjuang, yaitu bagian lantai yang dibuat lebih tinggi pada ujung dan pangkal rumah. Bentuk tersebut berkaitan dengan sistem adat Koto Piliang yang mengenal struktur kepemimpinan lebih bertingkat. Sementara itu, bentuk rumah gadang Bodi Caniago dikenal dengan lantai yang lebih datar, sesuai dengan prinsip hubungan penghulu yang digambarkan melalui ungkapan duduak samo randah, tagak samo tinggi.
Istana Basa Pagaruyung di Kabupaten Tanah Datar merupakan salah satu bangunan yang memperlihatkan ciri Koto Piliang. Bangunan yang berada di kawasan Pagaruyung tersebut memiliki anjuang pada bagian kiri dan kanan. Bentuknya juga jauh lebih monumental dibandingkan rumah gadang masyarakat biasa karena memiliki banyak gonjong dan ukuran bangunan yang besar.
Namun, Istana Basa Pagaruyung perlu dibedakan dari rumah gadang milik kaum pada umumnya. Bangunan tersebut merupakan kompleks istana yang memiliki fungsi dan kedudukan khusus dalam sejarah Kerajaan Pagaruyung. Karena itu, bentuknya tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menentukan seperti apa seluruh rumah gadang masyarakat Minangkabau.
Variasi lain dapat dilihat pada Rumah Tuo Kampai Nan Panjang di Nagari Belimbing, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar. Rumah gadang yang menjadi bagian dari bangunan cagar budaya tersebut memiliki tujuh bilik, sedangkan banyak rumah gadang lainnya memiliki jumlah bilik yang berbeda. Atapnya juga masih menggunakan ijuk, sementara pintu biliknya menggunakan sistem poros dan tidak memakai engsel besi.
Ruang dan Struktur Rumah Gadang
Arsitektur rumah gadang tidak berhenti pada bentuk atap. Bagian dalam bangunan juga memiliki susunan ruang yang berkaitan dengan kehidupan kaum. Rumah gadang pada umumnya memiliki denah memanjang dengan beberapa lanjar dan ruang yang tersusun di dalamnya. Bagian ruang tersebut dapat digunakan untuk berkumpul, makan bersama, bermusyawarah, dan menjalankan kegiatan keluarga.
Tiang rumah gadang juga memiliki fungsi penting dalam membentuk ruang sekaligus menopang bangunan. Struktur panggung menjadi salah satu ciri bangunan tradisional Minangkabau. Hampir seluruh komponen utama rumah gadang tradisional menggunakan kayu, sedangkan atap pada sejumlah bangunan lama menggunakan ijuk dan pada bangunan lainnya telah diganti menggunakan seng.
Ukiran menjadi unsur lain yang menonjol pada rumah gadang. Motif ukiran tradisional banyak mengambil bentuk tumbuhan, seperti Aka Cino dan motif flora lainnya yang ditempatkan pada dinding, pintu, serta bagian depan bangunan. Ukiran tersebut membuat bagian muka rumah gadang tidak hanya berfungsi sebagai pelindung bangunan, tetapi juga menjadi bidang untuk menampilkan ragam hias Minangkabau.
Rumah Tuo Kampai Nan Panjang di Nagari Belimbing memperlihatkan contoh penggunaan ukiran dan konstruksi tradisional yang masih dapat diamati pada bangunan lama. Sementara itu, Rumah Gadang Gajah Maharam di Kota Solok memperlihatkan kondisi yang berbeda karena sebagian material dan komponen bangunannya telah menyesuaikan dengan kebutuhan pada masa bangunan tersebut didirikan.
Gonjong pada Bangunan Masa Kini
Bentuk gonjong kemudian tidak hanya digunakan pada rumah gadang. Atap bergonjong juga diterapkan pada berbagai bangunan modern di Sumatera Barat. Kantor pemerintahan, fasilitas publik, kawasan wisata, hingga bangunan komersial dapat menggunakan bentuk gonjong untuk memperlihatkan identitas daerah.
Penerapan tersebut membuat bentuk gonjong mudah ditemukan bahkan ketika bangunannya tidak memiliki fungsi seperti rumah kaum. Di Bukittinggi dan berbagai kota lain di Sumatera Barat, unsur arsitektur Minangkabau digunakan dalam bangunan baru dengan tingkat penerapan yang berbeda. Ada bangunan yang mengambil bentuk atapnya saja, sementara bagian lain tetap menggunakan konstruksi modern.
Perkembangan tersebut juga terlihat pada bangunan wisata di Lembah Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Dalam rancangan arsitektur baru di kawasan tersebut, citra gonjong digunakan sebagai salah satu unsur visual yang menghubungkan bangunan dengan identitas budaya Minangkabau. Bentuk tradisional kemudian diterjemahkan ke dalam kebutuhan ruang dan konstruksi yang lebih modern.
Perubahan bahan juga menjadi bagian dari perkembangan rumah gadang. Atap ijuk yang dulu banyak ditemukan pada rumah tradisional kini pada sejumlah bangunan telah digantikan seng. Kondisi ini membuat bentuk gonjong tetap terlihat, tetapi material dan teknik pembangunannya dapat berbeda dengan rumah gadang lama.
Di sisi lain, sejumlah rumah gadang tua menghadapi persoalan kerusakan karena usia bangunan, pelapukan kayu, gempa, dan perubahan penggunaan. Rumah Gadang Gajah Maharam di Kota Solok, misalnya, pernah mengalami kerusakan yang diperparah gempa Sumatera Barat 2009 dan kemudian mendapat penanganan pemugaran.
Bentuk gonjong memang menjadi ciri yang paling cepat dikenali ketika orang berbicara tentang rumah gadang. Namun, arsitektur rumah gadang sebenarnya jauh lebih beragam. Lipek pandan, balah bubuang, gajah maharam, anjuang, lanjar, bilik, ukiran, serta perbedaan bentuk lantai memperlihatkan bahwa rumah tradisional Minangkabau memiliki banyak variasi.
Karena itu, rumah gadang tidak cukup dilihat hanya dari jumlah gonjong di atas atapnya. Di Nagari Belimbing, Kabupaten Tanah Datar, bentuk rumah tua masih memperlihatkan konstruksi dan material tradisional. Di Kota Solok terdapat Rumah Gadang Gajah Maharam dengan karakter yang berbeda. Sementara di Pagaruyung, bentuk rumah bergonjong berkembang dalam skala yang lebih monumental. Perbedaan tersebut justru memperlihatkan luasnya ragam arsitektur Minangkabau.








