Konservasi Bukit Batu Kepale dan Bukit Nenek, Upaya Menjaga Alam dan Jejak Peradaban Masa Lampau

Loading

RedBabel–BANGKA SELATAN – Di tengah ancaman kerusakan lingkungan dan mulai lunturnya kepedulian terhadap situs sejarah, upaya menjaga warisan alam dan budaya kembali digaungkan melalui kegiatan konservasi di kawasan Bukit Batu Kepale dan Bukit Nenek, (22/5/2026).

Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan menembus alam, tetapi juga menjadi ajakan nyata kepada masyarakat untuk ikut merawat jejak peradaban yang telah bertahan ribuan tahun.

Bukit Batu Kepale dan Bukit Nenek menyimpan nilai sejarah yang sangat penting. Kawasan ini diyakini menjadi bagian dari jejak kehidupan manusia masa lampau sekaligus kawasan strategis perjuangan masyarakat terdahulu.

Di wilayah perbukitan yang berada di daerah kita ini tersimpan jejak masa lalu yang perlu kita jaga. Pada masa penjajahan, Bukit Permisan menjadi tempat pertahanan Batin Tikal bersama para pejuang lainnya,” jelas Datok Kulul Sari, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Negeri Serumpun Sebalai Kabupaten Bangka Selatan saat menyampaikan materinya.

Ia juga mengungkapkan bahwa Bukit Batu Kepale menyimpan jejak manusia purba yang terlihat dari goresan cadas pada batu granit di kawasan tersebut.

Di Bukit Batu Kepale tersimpan jejak manusia purba. Hal ini nyata terukir pada goresan batu granit ini,” imbuhnya.

Penelitian terhadap situs tersebut telah beberapa kali dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Goresan cadas yang ditemukan di lokasi Bukit Batu Kepale diperkirakan telah berusia sekitar 3.000 tahun.

Temuan bersejarah ini masih terus diteliti lebih lanjut guna mengungkap lebih dalam kehidupan manusia pada masa lampau yang pernah meninggalkan jejak di kawasan Permisan.

Fakta ini menjadikan Bukit Batu Kepale dan Bukit Nenek bukan hanya sekadar bentang alam biasa, melainkan ruang sejarah terbuka yang menyimpan pesan penting tentang peradaban masa lalu. Karena itu, menjaga kawasan ini menjadi tanggung jawab bersama.

Demi menjaga kelestarian lingkungan dan memastikan pengalaman eksplorasi yang berkualitas, peserta kegiatan dibatasi hanya 30 orang yang berasal dari berbagai daerah seperti Pangkalpinang, Sungailiat, Belitung hingga Toboali. Pembatasan ini dilakukan agar aktivitas eksplorasi tidak berdampak buruk terhadap ekosistem maupun situs budaya yang ada di lokasi.

Kegiatan konservasi ini juga memperoleh dukungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumatera Selatan).

Koordinator kegiatan, Ganang Ardis Elfiando bersama Ketua Pokdarwis Bukit Nenek, Edo Sanjaya, serta dukungan dari Andre Z selaku Ketua Komunitas Kelekak Bangka Kecamatan Mendo Barat, menjadi bukti bahwa pelestarian alam dan budaya membutuhkan gerakan bersama.

Tidak cukup hanya mengagumi keindahan alam atau bangga terhadap sejarah leluhur, tetapi juga diperlukan tindakan nyata untuk melindunginya dari kerusakan dan kepunahan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat semakin tumbuh terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam sekaligus merawat warisan budaya yang diwariskan para leluhur.

Bukit Batu Kepale memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis konservasi dan edukasi yang tidak hanya menghadirkan keindahan alam, tetapi juga memberikan edukasi sejarah serta nilai-nilai kearifan lokal.

Sudah saatnya masyarakat ikut ambil bagian. Sebab menjaga Bukit Batu Kepale, Bukit Nenek dan Bukit Permisan bukan hanya tentang melestarikan alam, tetapi juga menyelamatkan identitas dan jejak sejarah untuk generasi mendatang. (Azl/RB)

About The Author

Pos terkait