Stunting Jadi Prioritas di Bangka Belitung

0
316

RedBabel, Pangkalpinang- Stunting menjadi prioritas di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bahkan, pada saat Rakor Gubernur dengan Bupati dan Walikota Se-Provinsi Kep. Bangka Belitung yang lalu, isu Stunting menjadi salah satu topik yang dibahas pada saat Rakor. Stunting merupakan dimana kondisi gagal tumbuh pada anak balita, akibat dari  kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi kronis terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, tetapi stunting baru nampak setelah anak berusia 2 tahun. “Stunting ditandai dengan kondisi fisik panjang badan atau tinggi badan anak lebih pendek dari anak normal seusianya”, Kata Sekretaris Bappeda Kep. Babel Joko Triadhi pada saat membuka Rapat Koordinasi Stunting Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Hotel Bangka City, Selasa (18/09). Pada saat Rakor Gubernur dengan Bupati dan Walikota, menurut Joko Triadhi telah disepakati dengan Bupati dan Walikota, bahwa setiap daerah harus memprioritaskan penanganan Stunting, sehingga akan menjadi lebih mudah dalam penanganan Stunting.

Pertama, Intervensi gizi spesifik khusus bidang kesehatan ditujukan kepada anak dalam 1000 hari pertama kehidupan (HPK) dengan sasaran ibu hamil, ibu menyusui dan anak usia 0-6 bulan serta ibu menyusui dan anak usia 7-23 bulan sesuai kewenangan masing-masing pada desa/kelurahan dengan status stunting. Kedua, Intervensi gizi sensitif melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan dengan sasaran adalah masyarakat secara umum dan tidak khusus ibu hamil dan balita pada 1000 hari pertama kehidupan sesuai kewenangan masing-masing pada desa/kelurahan dengan status stunting. Kemudian semua desa status stunting harus dijadikan kampung KB. Provinsi menyiapkan rumah data dan akan mengupdate data.

Ditambahkan Joko Triadi, Pemerintah Prov. Kep. Babel sangat serius dalam menangani Stunting, bahkan penanganannya sudah dilaksanakan secara lintas sektor, sehingga masing-masing Perangkat Daerah sudah mempunyai perannya masing-masing. “Bappeda tinggal memastikan implementasinya bisa berjalan dengan baik, tentu saja ini sudah kami mulai dari proses penyusunan dokumen perencanaannya”, Kata Joko Triadhi. Pada kesempatan yang sama, Kasubdit Pemberdayaan dan Gizi Masyarakat Kementerian PPN/Bappenas Entos Zainal mengatakan Stunting dapat mempengaruhi pencapaian bonus demografi. Berdasarkan data dari Proyeksi Penduduk, 2010-2045, pada tahun 2030, penduduk Indonesia akan mencapai 296,4 Juta jiwa, yang dimana 201,8 juta penduduk pada usia produktif (15-64 tahun).

“Stunting bila tidak ditanggulangi dapat menurunkan produktivitas sumber daya manusia, karena pada 15 tahun mendatang akan menjadi generasi penduduk usia produktif, sehingga bonus demografi tidak termanfaatkan dengan baik”, Kata Entos Zainal. Selain itu Stunting dapat berdampak pada ekonomi. Menurut Entos Zainal, berdasarkan data dari The Worldbank Tahun 2016, potensi kerugian ekonomi setiap tahunnya 2 samapai 3% dari GDP. “Jadi, jika PDB Indonesia sekitar Rp 13.000 Triliun, potensi kerugian akibat Stunting mencapai Rp 260 sampai 390 Triliun/tahun”, Kata Entos Zainal. (*/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.