Stafsus Wapres RI: Ekspor Lada ke Amerika dan Eropa Untuk Hasil yang Lebih Baik

0
334
Peluncuran Famers APP di Ruang Pasir Padi Kantor Gubernur Babel. (*)

RedBabel, Pangkalpinang- Staf Khusus Wakil Presiden Republik Indonesia, yang membidangi Infrastruktur dan Investasi,  Muhammad Abduh, meminta para eksportir lada baik di Bangka Belitung maupun di daerah lainnya di Indonesia untuk tidak melakukan kegiatan ekspor lada ke Vietnam. Ia menilai, tindakan mengekspor lada ke Vietnam sangat menguntungkan Vietnam dan merugikan para petani lada. “Pola ekspor kita harus diubah, jangan ekspor lada ke Vietnam dan harusnya kita ekspor ke Amerika dan Eropa. Kalau ekspor ke Vietnam kita sulit mendapatkan hasil yang baik”, Kata Abduh pada peluncuran Famers APP di Ruang Pasir Padi Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Kamis kemarin (19/07).

Abduh beranggapan, jika lada Babel dan lada dari daerah lainnya di Indonesia diekspor ke Vietnam, bukan tidak mungkin lada dari Babel yang memiliki citra rasa yang pedas dicampur dengan lada Vietnam untuk kemudian dieskspor lagi ke negara di benua Amerika dan Eropa, dengan harga yang jauh lebih tinggi. Untuk itulah Abduh meminta kepada para eksportir tidak lagi melakukan ekspor lada ke Vietnam. “Saya minta eksportir dapat memperhatikan hal ini, jangan kita dijadikan objek dagang”, Tegasnya. Sebagai upaya agar eksportir lada tidak lagi melakukan kegiatan ekspor lada ke Vietnam, Abduh meminta agar Kementerian Perdagangan dapat mengundang para eksportir lada untuk membicarakan hal ini.

Saat ini produksi lada dunia mencapai 400 ribu ton pertahun. Dari jumlah itu Vietnam menyumbang 200 ribu ton lada  per tahun, sementara Indonesia hanya 60 ribu ton per tahun. “Saya meragukan jika produksi lada Vietnam bisa mencapai 200 ribu ton dan produksi lada Indonesia hanya sekitar 60 ribu ton per tahun”, Katanya. Dalam kesempatan itu Abduh juga menyoroti soal rendahnya harga lada saat ini. Menurutnya, dampak yang sangat besar dari rendahnya harga lada ini adalah petani. Dia beranggapan, sulit bagi petani untuk meningkat produksi dan meningkatkan kualitas lada jika harga lada hanya Rp.50.000 per kilogram. “Saya menyambut baik kebijakan resi gudang yang dibuat olah Gubernur Babel untuk membantu petani lada dalam mensiasati rendahnya harga lada saat ini”, Katanya.

Sementara itu Suhaili, petani lada asal Desa Terentang berharap pihak-pihak terkait dapat mencari solusi atas rendahnya harga lada saat ini. Menurutnya, harga hanya yang Rp.50.000 an  per kilogram tidak sebanding dengan biaya produksi lada yang dikeluarkan. “Untuk satu pohon lada saja biaya yang dikeluarkan lebih dari Rp50.000. Tentunya harga tersebut sangat merugikan petani”, Tegasnya. Walaupun harga lada menurun, Suhaili tetap menanam lada dan berharap harga lada kedepannya dapat meningkat diatas 100 ribuan per kilogram. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.