Rakor DP3ACSKB se-Babel, Sinergitas Perlindungan Kekerasan Anak dan Perempuan

0
265

RedBabel, Pangkalpinang- Dinas DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada hari Jum’at (27/07) menggelar rapat koordinasi dengan P2TP2A Kabupaten/Kota  dan UPT PPA Dinas DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain membahas sinergitas peran antar lembaga, rakor tersebut juga merumuskan kesepakatan bersama sekaligus pemberian pengarahan kepada tim kerja P2TP2A dan UPT PPA terkait bentuk perlindungan, penanganan dan pencegahan tindak kekerasan pada anak dan perempuan. Pentingnya sinergitas program PPA, Kepala Dinas DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Susanti mengungkapkan bahwa perlunya sinergitas program PPA merupakan upaya pemerintah untuk menurunkan tindak kekerasan pada anak dan perempuan.

“Jumlah kekerasan yang terjadi di Bangka Belitung dalam dua tahun terakhir mengenai kekerasan pada anak dan perempuan yaitu pada tahun  2015 kasus kekerasan pada anak sebanyak 105 dan pada perempuan sebanyak 97 kasus. Kemudian pada tahun 2016 kasus kekerasan terhadap anak sebanyak 156 kasus dan pada perempuan sebanyak 123 kasus. Tentunya kasus kekerasan ini tidak boleh terjadi”, Ungkap Susanti. Kasus kekerasan fisik, seksual, psikis dan penelantaran diungkapkan Susanti merupakan beberapa jumlah kasus kekerasan pada anak dan perempuan yang sering terjadi dan membutuhkan penanganan dan perlindungan secara holistik. “Kita (Pemerintah, P2TP2A dan UPT PPA) fokus kepada upaya memberikan perlindungan pada anak dan perempuan dari tindak kasus yang terjadi diantaranya kekerasan fisik, seksual, psikis dan penelantaran sebagaimana yang telah diamanatkan dalam UU mengenai perlindungan anak dan penghapusan kekerasan pada rumah tangga”, Ungkap Susanti.

Susanti juga mengungkapkan dari hasil evaluasi dan monitoring menunjukan bahwa kasus kekerasan pada anak umumnya terjadi di lingkungan keluarga, sekolah dan di masyarakat. “Jadi kasus yang paling banyak terjadi pada anak di Bangka Belitung diantaranya kekerasan seksual, fisik dan pisikis dan umumnya banyak terjadi di lingkungan terdekat anak misalkan dalam keluarga, sekolah dan lingkungan lainnya”, Ugkap Susanti.

Sebagai penggiat perlindungan anak dan perempuan, Susanti memberikan arahan agar tim P2TP2A dan UPT PPA perlu mengupayakan kepedulian semua stakeholder agar kekerasan terhadap anak dan perempuan sebisa mungkin dicegah dan diatasi. “Kita juga harus mensosialisasikan bagaimana bentuk perlindungan pada perempuan dan anak, seperti melalui publikasi di media yang menyampaikan dan menyuarakan perlindungan anak dan perempuan, dan juga kepada penggiat P2TP2A dan kepedulian seluruh masyarakat untuk bersepakat menyuarakan stop tindak kekerasan anak dan perempuan dan bagaimana penggiat P2TP2A mendorong kepedulian semua pihak”, Ungkap Susanti.

Dari rakor tersebut, beberapa hasil kesepakatan yang dihasilkan dalam upaya mencegah dan sekaligus memberikan penanganan kasus kekerasan yang terjadi pada anak dan perempuan diantaranya upaya untuk merealisasikan rumah singgah untuk para korban kekerasan bagi yang belum memiliki rumah singgah dan mengupayakan pendanaan operasional dan penguatan P2TP2A  pada Dinas PPPA di Kabupaten/Kota. (*/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.