Jangankan mimpi, membayangkan pun tidak bisa, namun justru mengalami, mana yang kau pilih?

0
248

Salam Tulus dan Ikhlas,

Bahar Buasan, S.T., M.S.M., M.Sc“ APA YANG KAU CARI BAHAR ?

Banyak yang bertanya kepada saya, apa yang sebenarnya saya cari. Saya memiliki pengalaman yang beragam mulai dari bertani menanam sayur, menjual sayur dan kue keliling, menjadi kenek tukang batu, karir profesional, menjalani bisnis, hingga menjadi seorang politisi. Dalam hidup, saya banyak belajar dari filsafat hidup nenek yang memberikan semangat luar biasa bagi saya. Beliau mengatakan : “Kita boleh miskin, tetapi kita harus sekolah. Jangan takut kepada orang yang tidak bisa, takutlah kepada orang yang tidak mau. Jangan takut beli barang mahal, orang beli banyak kita beli sedikit, selera tetap sama. Maju terus pantang mundur !” Berbekal kemauan keras, pintu menuju sukses diyakini akan selalu terbuka.
Berbekal filsafat hidup nenek saya tersebut, saya memiliki empat prinsip yang selalu saya pegang dalam hidup. Dapat dikatakan bahwa keempat hal inilah yang membawa saya bertransformasi dari anak-anak yang berjualan kue dan sayur keliling, menjadi pekerja di beberapa perusahaan, mencoba peruntungan menjadi pebisnis dan menjadi politisi. Berikut adalah keempat prinsip dalam hidup saya :

Prinsip I : Kegigihan
Masa karir saya tidak dimulai dari usia produktif. Masa karir saya dimulai dari kecil. Pada saat saya kecil, sebelum sekolah saya membantu ayah dan ibu bertani dan berjualan sayur keliling. Saya juga pernah membantu nenek berjualan kue sambil sekolah. Hal ini saya lakukan untuk membantu kehidupan kami. Lelah? Tentu saja namun demi membantu meningkatkan kehidupan keluarga, saya lakukan dengan semangat.
Sudah terbiasa dengan belajar sambil bekerja sedari kecil, pada tahun 1985 saya memberanikan diri untuk hijrah ke Bandung dan mengenyam pendidikan di Kota Bandung. Bermodal tekad yang keras, saya berkuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Mandala (STTM) jurusan Teknik Sipil sambil menyambi pekerjaan menjadi kenek tukang batu. Meskipun hanya kenek tukang batu, namun saya mengerjakannya dengan sangat semangat dan gigih. Berkat kegigihan saya, tawaran pekerjaan tidak berhenti mengalir kepada saya. Tercatat pernah bekerja di beberapa perusahaan besar, seperti PT Bandung Asri Mulya, PT Delami Garment Industry, PT Adhimega Kreasi Cipta, PT Pulau Intan Baja Perkasa, Sriwijaya Air, PT. Asuransi Wahana Tata, serta PT.Citrathirza Astrarijaya.

Salah satu pengalaman karir saya adalah saya bekerja di PT Delami Garment di Bandung. Saya bekerja disana selama 10 tahun dan saya mengawali karir saya disana mulai dari pegawai dengan tingkat yang bisa dibilang rendah yaitu staff gudang. Seperti prinsip saya sebelumnya, saya harus gigih, serius, dan berkembang di dalam setiap pekerjaan. Saya harus bisa menjadi karyawan yang baik bahkan lebih baik dari hari ke hari. Meskipun hanya karyawan rendah namun dedikasi terhadap pekerjaan harus nomor satu. Meskipun jam kantor baru dimulai pukul delapan pagi hingga lima sore, namun saya setiap hari datang kerja lebih pagi dan pulang kerja lebih malam. Selama 10 tahun saya datang kurang dari pukul tujuh, dan selama kurang lebih satu jam saya menghabiskan waktu untuk membaca koran, membaca buku dan membaca hal-hal yang baru yang terjadi di luar sana. Meskipun tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, namun saya tetap mengikuti berbagai perkembangan baik di dalam maupun diluar negeri agar pikiran tetap terbuka, pengetahuan tetap terisi sehingga saya bisa ngobrol dengan siapapun mengenai apapun. Setelah itu pada jam 8 pagi hingga jam 5 sore saya fokus bekerja. Hingga akhirnya diatas jam 5 ketika seluruh pekerjaan selesai saya akan pindah meja dan pindah fokus untuk memikirkan pengembangan perusahaan yang diluar tugas rutin.
Setelah saya keluar dari perusahaan, dengan modal yang kecil saya juga mencoba peruntungan untuk menjadi entrepeneur. Pada awalnya bisnis tidak mudah. Sempat jatuh bangun namun saya tetap gigih dan bersemangat dalam menghidupi bisnis yang sudah saya mulai. pada akhirnya, berkat kegigihan, hingga kini saya memiliki beberapa perusahaan kecil milik sendiri seperti PT. Harlie Kreasi Pratama dan PT. Harlie Travelindo.

Prinsip Kedua : Pendidikan adalah nomor satu
Seperti yang telah diceritakan di atas bahwa salah satu prinsip yang menempel kepada saya sejak saya kecil adalah “Kita boleh miskin, tetapi kita harus sekolah”. Meskipun mengalami masa kecil yang cukup memprihatinkan dan Saat bersekolah saya harus membantu ayah dan ibu berjualan sayur dan nenek berjualan kue, hingga menjadi kenek tukang batu saat sekolah, namun pendidikan harus terus dikejar dan belajarlah hingga kau tidak bisa lagi belajar.
Pada saat kuliah, meskipun sambil bekerja saya tetap kuliah. Sekolah boleh terhambat namun jangan harap aku berhenti, karena apa yang sudah kita mulai harus kita selesaikan, terutama dalam hal pendidikan. Kebanyakan orang melepaskan sekolah jika sudah mulai bekerja, namun tidak untuk saya karena bagi saya pendidikan adalah kunci utama dari kehidupan seseorang. Seseorang mungkin bisa sukses walaupun tanpa pendidikan, tapi saya percaya apabila ia sekolah maka ia akan lebih sukses lagi, karena saya percaya betul apa yang dikatakan oleh nenek saya “kita boleh miskin , tapi harus sekolah” dan jika saya boleh menambahkan “meskipun keadaan hidup sudah lebih baik, tetaplah harus sekolah”.
Kegigihan saya dalam sekolah dan mengenyam pendidikan juga saya buktikan bahwa di usia saya yang sudah tidak muda lagi, saya masih mau meneruskan kuliah ke jenjang Doktoral. Meskipun saya sudah menjadi anggota DPD RI Periode 2009-2014 dan 2014-2019 namun kecintaan saya terhadap pendidikan belum pudar. Tidak tanggung-tanggung saya mengambil dua master sekaligus di dua universitas terbaik di Indonesia yaitu Universitas Indonesia dengan jurusan Ilmu Manajemen dan Universitas Gadjah Mada dengan jurusan Ketahanan Nasional. Bahkan di Universitas Gadjah Mada saya mendapatkan beasiswa, dan sejak 2021 saya juga mengikuti pendidikan S3 di STIK-PTIK (Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian) program doktor Ilmu Kepolisian.
Meskipun dapat dikatakan sudah tua, saya tetap menjalani kuliah seperti orang-orang lainnya. Saya pergi ke kampus, saya belajar bersama dengan anak-anak muda yang rata-rata umurnya setengah dari umur saya, saya mengerjakan tugas, menjalani tesis, ikut sidang tesis, dan ikut wisuda.
Hari-hari saya sebagai mahasiswa pada saat S2 adalah, pada pagi hingga sore hari saya bekerja di kantor DPD di Senayan, pada sore hari saya langsung menuju Universitas Indonesia yang letaknya di Depok atau Universitas Gadjah Mada Jogjakarta di Jakarta untuk masuk kelas dan belajar. Pada saat akhir pekan, saya menghabiskan waktu saya untuk mengejar semua tugas atau sekedar membaca materi. Karena sadar aktifitas saya tidak sedikit, saya harus pintar dalam manajemen waktu dan manajemen tenaga. Begitu juga ketika kuliah di S3 PTIK kami kuliah dari hari senin – kamis setiap minggunya.
Meskipun berat semua saya jalankan dengan bahagia , tulus dan ikhlas. Banyak yang bertanya untuk apa saya melakukan hal ini dan tidak sedikit juga yang menyatakan bahwa saya seperti orang kurang kerjaan. Pada saat itu saya tidak berani banyak bercerita kepada orang lain apa yang saya lakukan, setelah saya berhasil saya baru berani menceritakannya kepada orang lain supaya menjadi motivasi bagi orang lain dan generasi muda terutama memberi contoh kepada dua anak saya, Bryan Harlie Buasan dan Brandon Harlie Buasan, bahwa saya saja masih semangat sekolah, mereka harusnya lebih semangat dari papanya. Semua ini yg mendorong saya cita-cita masa kecilku yg pernah ku tulis dibuku harian masa Pendidikan Dasar : Untuk meningkatkan harkat & martabat keluarga. Semua ini saya lakukan untuk : Meningkatkan Kualitas Hidup dengan Cara yang Berbedah.
Bagi saya pendidikan tidak hanya di sekolah formal. Pada tahun 2011 saya mengikuti program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) angkatan XVII selama lima setengah bulan di Lembaga Ketahanan Nasional atau Lemhannas yang mengambil tema “penanggulangan terorisme dalam rangka ketahanan nasional”. Banyak yang bertanya kepada saya untuk apa saya dari gedung MPR belajar terorisme, namun saya yakin semua ilmu pasti ada manfaatnya, minimal untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun relationship . Berkat ikut lemhannas, dalam rangka studi strategis luar negeri, saya mendapat kesempatan untuk belajar terorisme di Amerika Serikat tepatnya di Federal Bureau of Inteligence atau FBI, RAND institute, dan Departemen pertahanan Amerika Serikat. Seperti yang saya tulis di judul, jangankan mimpi, membayangkanpun tidak bisa, namun saya mengalami, mana yang kau pilih? semua hal mungkin selama kita gigih dan tidak pernah menyerah dalam belajar.

Prinsip ketiga : tak ku biarkan nasiku berceceran
Petani menanam padi, padi ditumbuk menjadi beras, Beras dicuci dan ditanak hingga menjadi nasi, Nasi ditaruh diatas piring ,Seringkali dibuang sebagian, kira-kira seperti itulah nasib beberapa butir nasi yang tidak habis kita makan, padahal mungkin dari beberapa butir tersebut menyimpan energi yang dapat kita gunakan sebagai energi dan tenaga cadangan untuk kegiatan ini dan masih banyak orang yang masih menderita kelaparan, sehingga bagi saya sangat sayang untuk melihat nasi dibuang. Dari filosofi nasi tersebut saya tangkap menjadi peluang tidak boleh disia-siakan. Peluang apapun di depan matamu, ambilah. karena bisa jadi peluang itu yang akan membawamu ke satu tempat.
Dalam kehidupan saya, dari kenek tukang batu, hingga duduk di gedung MPR semua saya lakukan karena saya melihat dan mengambil peluang yang ada. Saya mendaftar dan diterima untuk melanjutkan kuliah di UI dan di bulan yang sama saya juga mendapat mendaftar dan tidak kebetulan saya diterima dan bahkan mendapat beasiswa di UGM, keduanya saya anggap peluang dan saya ambil dan jalani begitu juga saya mengambil S3 di STIK di kota Jakarta. Dalam berbisnis pun, setiap saya melihat peluang yang mampu saya kerjakan,tidak akan saya sia-siakan dan saya kerjakan sesuai dengan kemampuan. Seperti di dalam bisnis, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Bisnis saya beragam mulai dari bidang konstruksi, interior- furnitre, tour dan travel, pertanian dan lain-lain. Bisnis-bisnis tersebut tidak datang dengan tiba-tiba, saya melihat ada peluang, saya ambil, saya lakukan dengan gigih, sungguh-sungguh dan pantang menyerah. Saya tidak membiarkan nasi saya berceceran.

Prinsip keempat ; Aku memberi apa yang kumiliki dan kusayangi
Sejak masih hidup susah, saya sudah terbiasa dengan membantu orang lain. Bagi saya membantu orang lain tidak hanya bisa dilakukan oleh orang kaya namun bisa dilakukan oleh semua orang karena beramal. berdonasi, dan membantu sesama tidak selalu dengan memberikan uang. Memberi dari apa yang kita miliki dan sayangi maka hal itu akan menimbulkan kebahagiaan. Pertama berikanlah senyum. Kedua berikanlah tenagamu. Ketiga, berikanlah darahmu. Keempat berikanlah ilmumu. Kelima, Berikanlah jantung pisang (hal yang kadang-kadang tidak bermanfaat). Saya mengilustrasikan kalau tidak kita petik akan jatuh dan rontok dan jadi sampah tapi kalau kita petik dan berikan kepada orang yang menyukai atau membutuhkan maka akan menjadi sebuah nilai tambah dan manfaat di dalam kehidupan sosial sehari hari karena barang yang tidak bermanfaat bagi kita atau orang tertentu tapi bermanfaat bagi orang yang membutuhkannya.
Bagi saya kegiatan berbagi dilakukan bukan hanya sekedar ketika kita memberikan sedikit dari hal berlebih yang kita punya, namun lebih kepada ketika kita tulus dan ikhlas memberikan sesuatu yang kita punya dan kita sayangi, disitulah esensi keihklasan dalam memberi menjadi dirasakan. Saya setiap pulang ke daerah asal saya di bangka selalu menyempatkan diri untuk melakukan donor darah. Tercatat sudah 88 kali saya melakukan donor darah walaupun sekarang saya tdk bisa donor karena Kesehatan namun saya tetap semangat memotivasi orang lain untuk Berdonor darah, setetes darah selamatkan nyawah. Selain itu dalam setiap kesempatan saya selalu meluangkan waktu untuk berkumpul dan bercerita bersama orang banyak orang sebagai ajang untuk bertukar ilmu. Apa yang saya ketahui akan saya coba berikan kepada masyarakat, saya menyebutnya BBM = Belajar Bersama Masyarakat, dan kalau dipelesetkan BBM menjadi = Bahar Buasan Melayani, begitu juga dengan kegiatan rutin Pelayanan Kesehatan gratis di rumah inspirasi buasan

Penutup
Demikianlah sepenggal kisah perjalanan hidup saya mulai dari anak kecil penjual sayur dan kue keliling, kenek tukang batu menjadi karyawan hingga menjadi pebisnis sekaligus anggota DPD/MPR-RI. Hidup saya tidak akan menjadi seperti ini tanpa kegigihan, pendidikan dan kesempatan. Jalan hidup saya tidak akan semulus ini jika tidak disertai dengan kebiasaan berbagi hal yang kita sayangi. Tidak ada hidup yang mudah namun selama kita menjalaninya dengan tulus dan ikhlas, maka semuanya akan menjadi indah.

“Boleh Terhambat Jangan Harap Aku Berhenti”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.