Gubernur Erzaldi Hadiri Pertemuan Tahunan BI di JCC

0
195

RedBabel, Jakarta- Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman, didampingi Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Babel menghadiri pertemuan tahunan BI yang mengangkat tema “Sinergi Ketahanan dan Pertumbuhan“.

Dalam forum yang berlangsung di Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC) Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan tersebut, turut dihadiri Presiden RI, Joko Widodo, Pimpinan Lembaga Negara, Menteri Kabinet Kerja, Gubernur se-Indonesia, Gubernur BI Perry Warjiyo, beserta jajarannya, Pimpinan perbankan dan korporasi nonbank, akademisi, pengamat ekonomi, serta perwakilan sejumlah lembaga internasional.

Perry Warjiyo selaku Gubernur BI dalam sambutannya menyampaikan, prospek ekonomi Indonesia akan semakin membaik dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dan stabilitas yang tetap terjaga.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 diperkirakan tetap meningkat hingga mencapai kisaran 5,0-5,4%. Inflasi 2019 tetap terkendali pada kisaran sasaran 3,5+1% dengan terjaganya tekanan harga dari sisi permintaan, volatile foods dan administered prices, ekspektasi inflasi, dan stabilnya nilai tukar Rupiah,” jelas Perry.

Defisit transaksi berjalan 2019, lanjut dia, akan turun menjadi sekitar 2,5% dari PDB dengan langkah-langkah pengendalian impor serta peningkatan ekspor dan pariwisata. Fungsi intermediasi perbankan dan pembiayaan ekonomi dari pasar modal akan terus meningkat.

“Pertumbuhan kredit pada 2019, diprakirakan mencapai 10-12%, sementara pertumbuhan DPK perbankan mencapai 8-10% dengan kecukupan likuiditas yang terjaga. Dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi 2024 diproyeksikan akan lebih tinggi lagi, yaitu mencapai kisaran 5,5-6,1%, dan defisit transaksi berjalan akan menurun dibawah 2% dari PDB,” papar Perry.

Lebih lanjut Gubernur BI mengatakan, sinergi merupakan kunci untuk mampu memperkuat ketahanan dalam menghadapi dampak rambatan global dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi menuju negara maju yang sejahtera.

Di tengah perkembangan ekonomi global yang tidak kondusif, kinerja perekonomian Indonesia pada tahun 2018 cukup baik, dengan stabilitas yang tetap terjaga dan momentum pertumbuhan yang berlanjut.

BI, kata dia, memandang terdapat tiga pelajaran penting perjalanan ekonomi 2018 yang dapat dipetik untuk memperkuat sinergi dalam memperkuat ketahanan dan mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan di tengah kondisi ekonomi global yang masih akan kurang kondusif.

Pertama, diuraikannya, stabilitas dan ketahanan perekonomian perlu terus diperkuat. Kedua, daya saing dan produktivitas harus terus ditingkatkan untuk mendorong momentum pertumbuhan ke tingkat yang lebih tinggi. Ketiga, sinergi kebijakan antar otoritas menjadi kunci dalam upaya untuk memperkuat struktur ekonomi nasional.

Dengan kondisi perekonomian global yang belum kondusif, ditambahkannya, bauran kebijakan BI yang telah ditempuh pada 2018 akan semakin diperkuat pada tahun 2019 mendatang.

Untuk itu, dikatakan Gubernur BI, terdapat tujuh area kebijakan yang akan ditempuh oleh BI. Pertama, kebijakan moneter akan tetap difokuskan pada stabilitas, khususnya pengendalian inflasi sesuai sasaran 3,5+1% dan stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya.

Stance kebijakan moneter yang pre-emptive dan ahead-the-curve akan dipertahankan pada tahun 2019. Kedua, kebijakan makroprudensial yang akomodatif akan ditempuh untuk mendorong intermediasi perbankan dalam pembiayaan ekonomi termasuk untuk menjaga ketahanan sistem keuangan dengan memperkuat surveilans terhadap bank-bank besar dan korporasi yang sistemik.

Ketiga, kebijakan sistem pembayaran akan terus dikembangkan untuk kelancaran, efisiensi, dan keamanan transaksi pembayaran nontunai maupun tunai, termasuk dalam mendukung ekonomi dan keuangan digital.

Keempat, akselerasi pendalaman pasar keuangan terus didorong untuk mendukung efektivitas kebijakan Bank Indonesia dan pembiayaan ekonomi secara lebih luas serta terus berpartisipasi aktif dalam inovasi berbagai instrumen pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur ke depan.

Kelima, mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, baik melalui program-program Bank Indonesia maupun sebagai bagian program Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). Keenam, perluasan pengembangan UMKM dengan fokus pada pengendalian inflasi dan penurunan defisit transaksi berjalan.

Ketujuh, kebijakan internasional diarahkan untuk memperkuat persepsi positif terhadap Indonesia dan berperan aktif dalam perumusan kebijakan di berbagai lembaga internasional.

BI juga akan semakin memperkuat sinergi bauran kebijakan ekonomi nasional dengan Pemerintah, OJK, dan otoritas lainnya. Sinergi bauran kebijakan akan diarahkan untuk pengendalian inflasi, perbaikan struktur ekonomi, stabilitas sistem keuangan, akselerasi pendalaman pasar keuangan serta ekosistem ekonomi dan keuangan digital.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden RI Jokowi menyampaikan apresiasi atas langkah BI dalam menjaga stabilitas ekonomi khususnya stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Kebijakan BI dipandang tidak hanya menunjukkan ketegasan dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, namun juga mampu membawa persepsi positif terhadap pelaku pasar,” kata Presiden.

Terpisah, Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman mengatakan, sinergi untuk ketahanan dan pertumbuhan ini, merupakan suatu kunci untuk menstabilkan ekonomi khususnya di bumi Serumpun Sebalai.

Dijelaskan, Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan III tahun 2018 mencapai 7,09% (yoy), tertinggi dibandingkan provinsi lainnya di Sumatera.

PDRB Triwulan III tahun 2018 dimaksud lebih tinggi dibandingkan Triwulan II 2018 sebesar 4,51% (yoy).

Angka pertumbuhan ekonomi Babel pada Triwulan III 2018, tercatat lebih tinggi dibandingkan Nasional dan Sumatera yang masing-masing sebesar 5,17% dan 4,72% (yoy).

Disebutkan, Faktor Pendorong Peningkatan Perekonomian Babel : Pertama, Industri pengolahan, tumbuh 10,03% (yoy), andil 2,25%; Kedua, Pertanian, tumbuh 8,61% (yoy), andil 1,55%; Ketiga, Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib, tumbuh 12,20% yoy (andil 0,63%); Keempat, Konstruksi, tumbuh 6,51% (yoy), andil 0,56%. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.